Tags

, , ,

Dikutip dari https://kyoto.travel/en/akimahen ada beberapa akimahen di Kota Kyoto. Akimahen berarti ‘jangan’ di Kyoto. Makna lebih luas nya adalah hal-hal yang dilarang atau sebaiknya tidak dilakukan atau yang perlu jadi perhatian di kota Kyoto. Ada beberapa infografik pada laman di atas dalam bentuk .jpg berbahasa Inggris.

Berikut beberapa akimahen yang saya ketikkan. Sisanya bisa Anda baca di laman di atas.

Dilarang merokok di luar area merokok yang telah disediakan. Jika tertangkap, bisa dikenai denda 1000 yen.

Taksi di Kota Kyoto pintunya terbuka sendiri ketika berhenti untuk menaikkan penumpang. Jadi, hati-hatilah jangan terlalu dekat dengan pintu taksi ketika taksi mau menaikkan Anda ke dalam.

Memberi tip di Jepang bukanlah suatu kebiasaan, begitu juga di Kyoto. Ketimbang memberi tip, ucapkanlah terima kasih dalam dialek lokal yaitu ookini.

Ketika Anda memasuki ruangan yang memakai tatami, Anda diharuskan melepas sepatu Anda. Malah, jangankan sepatu, sandal saja tidak diperkenankan.

Jangan menyalip antrean.

Jangan mengambil foto di dekat rel kereta api. Ada beberapa spot di stasiun yang bagus untuk diabadikan dalam gambar, tapi jangan membahayakan diri Anda maupun orang lain.

Jangan mengambil foto di kuil atau menggunakan flash.

Ingat untuk melepas topi dan kacamata hitam Anda sebelum memasuki kuil baik itu Kuil Budha maupun Shinto.

Jangan ribut atau membuat kegaduhan di kuil.

Jangan meninggalkan sepeda Anda di sembarang tempat selain di tempat yang telah disediakan khusus parkir sepeda. Anda bisa dikenai denda, terlebih jika sepeda yang Anda gunakan adalah sewaan, bisa-bisa berlipat ganda biaya yang harus Anda bayarkan.

Jika Anda bertemu dengan maiko di jalan, jangan paksa dia untuk berfoto untuk Anda. Mintalah baik-baik.

Jangan buang sampah sembarangan. Anda bisa dikenai denda 30.000 yen.

Tidaklah sopan membawa makanan atau minuman dari luar ke dalam restoran.

Jika Anda sudah membuat reservasi di restoran, tolong jangan dibatalkan pada saat-saat terakhir.

Kyoto dijuluki tempat kelahiran manga karena di sini ada manga tertua yang berjudul choju jinbutsu giga. Format manga mengikuti format manga tersebut yaitu dari kanan ke kiri.

Geisha dikenal dengan nama geigi di Kyoto.

Kadobaki adalah tradisi bersih-bersih yang ada di Kyoto. Orang-orang biasanya membantu menyapu halaman rumah tetangga mereka dalam jarak 30 cm dari rumah mereka, baik itu ke kiri maupun ke kanan.