Tags

, , , , , ,

Sisa Makanan Membuat Masalah?
Apa maksudnya ya?

Apakah anda tahu bahwa jika dirata-ratakan, setiap orang di negeri Belanda per tahunnya membuang begitu saja lebih dari 50 kg makanan hanya gara-gara best before date (tanggal gunakan sebelum) nya sudah lewat? Wah, kalau dikalikan dengan jumlah penduduk Belanda yang berjumlah kurang lebih 16.785.500, total makanan yang dibuang di Belanda saja adalah 839.275.000 kg alias 839.275 ton!! Banyak sekali, padahal ini baru best before date, alias makanan sebenarnya masih bisa dikonsumsi setelah tanggal ini, hanya saja kualitas dan rasanya mulai menurun. Sayang banget ya. Siapa dong yang disalahin?

Bagi Belanda, tidak ada kata kambing hitam, mereka yang dari jaman ke jaman sudah dikenal sebagai negeri nya orang kreatif (sudah mendarah daging), malahan menilai hal ini sebagai kesempatan dengan menjadi pelopor, kayak pertamax gitu kalau di Indonesia. Lihat saja pelbagai penemuan orang-orang kreatif dari Belanda yang contohnya, Bluetooth dan Wi-Fi, yang sekarang lagi ngetren nya di negara kita.

Melihat masalah ini, pemerintah Belanda, melalui Kementerian Perekonomian nya mempunyai misi untuk mengurangi angka makanan yang terbuang di atas sebanyak 20% dalam jangka waktu 2 tahun dari sekarang alias 2015. Tapi, coba pikir deh, dua tahun itu cepat banget rasanya, dan untuk merubah suatu kebiasaan apalagi soal makanan tentunya bukan perkara gampang. Maka dari itu, selain pembangunan Cool Port di Rotterdam yang bertujuan untuk menjaga kesegaran makanan lebih lama, pemerintah bekerja sama dengan lembaga penelitian di universitas terkemuka yaitu Eindhoven University of Technology (yang slogan di logo nya bertuliskan where innovation starts) dan dengan bantuan dari Universitas Catania Italia, CEA-Liten Perancis dan STMicroelectronics berhasil menemukan cara yang sungguh innovative dan pertama di dunia untuk menangani momok masalah sisa makanan ini.

Pada intinya, para peneliti ini membuat sebuah sirkuit yang nantinya digabungkan dengan kemasan yang nantinya mampu ‘mengecek’ seberapa segar dan layak dikonsumsi nya makanan yang terdapat di dalam kemasan tersebut dan tidak menyebabkan keracunan makanan. Sirkuit ini kemudian bisa dibaca dengan handphone atau semacam scanner. Dan yang lebih baik lagi, harga sirkuit itu kurang dari 1 sen Euro loh, karena terbuat dari plastik bukan silikon.

Semoga, kita di Indonesia yang disebut-sebut sebagai negara agraris dan kaya sumber daya alam bisa lebih bijak dalam mengkonsumsi makanan, dengan cara tidak membuang-buang makanan dan mensyukurinya, karena masih banyak orang yang kelaparan dan meminta-minta untuk sesuap nasi. Orang-orang mampu menjadi pelopor karena mereka mengerti bahwa

makanan itu sangat berkaitan erat dengan sejarah, budaya, seni dan teknologi

Referensi:
http://www.government.nl/issues/food-and-food-safety/sustainability
http://no-opportunity-wasted.com/images/document/416.pdf
http://www.guardian.co.uk/environment/2013/jan/10/half-world-food-waste
http://www.tue.nl/en/university/news-and-press/news/new-plastic-electronics-can-greatly-reduce-food-waste-worldwide/
http://images.google.com